Catatan Pribadi

Catatan Kecil Tentang Pendidikan

Berbicara soal pendidikan di negeri ini maka tidak ada habis – habisnya karena begitu banyak persoalan yang terjadi tentang dunia pendidikan mulai dari pemerataan guru yang belum merata sampai dengan hari ini, pembelian ijazah palsu, wisudawan palsu, penggelapan dana pendidikan, perubahan kurikulum setiap tahun, ujian nasional yang ecek – ecek  dan masih banyak yang lainya.
Pada kesempatan kali ini saya mencoba mengulas tentang apa yang saya alami ketika saya pertama kali mengikuti pendidikan formal beberapa tahun yang silam di daerah terpencil, Ini adalah sebuah catatan kecil bagi saya dan semoga apa yang saya alami di masa lalu tidak terjadi lagi ke depan demi kemajuan bangsa dan negara ini. Apa yang saya tulis ini adalah secuil persoalan dalam dunia pendidikan kita di negeri ini di antara sejuta masalah lain yang belum kunjung selesai.

Salah satu motivasi saya untuk menuliskanya karena fenomena – fenomena yang terjadi tentang dunia pendidikan saat ini dimana banyak hal – hal aneh yang terjadi, terkadang di luar logica seperti kasus guru yang masuk pengadilan dan dipenjara karena menghukum siswanya sehingga siswa melaporkanya kepada pihak berwajib namun sebaliknya juga ada guru yang terlalu keras menghukum siswanya hingga di luar batas kemanusiaan layaknya seperti orang berantam di terminal bahkan ada pemberitaan di media ada siswa yang di pecat karena terlalu kritis dan masih banyak kasus – kasus lain baik yang sudah tercatat maupun tidak tercatat/terpublikasi. Pada kesempatan kali ini saya ingin mengulas secara singkat bagaimana saya mengikuti pendidikan formal beberapa tahun yang silam, namun sebelumnya ada dua point penting yang perlu saya sampaikan terlebih dahulu di antaranya : 
Pertama dari segi guru, meskipun saya tidak melakukan penelitian akademis tapi hanya berdasarkan pengalaman selama saya menjadi seorang siswa beberapa tahun silam, sebetulnya tidak semua guru itu layak menjadi seorang guru, kenapa saya mengatakan demikain, mari kita lihat dan pahami arti guru itu sendiri. Misalnya Pengertian guru menurut Undang – Undang  No.14 Tahun 2005 tentang Guru dimana di sebutkan “Guru ialah seorang pendidik profesional dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini melalui jalur formal pendidikan dasar dan pendidikan menengah”. Selain berdasarkan undang – undang beberapa pakar juga telah banyak memberikan definisi tentang guru misalnya Dr. Ahmad Tafsir yang mendefinisikan arti guru sebagai berikut:  Guru (pendidik) ialah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik. Tugas guru dalam pandangan islam ialah mendidik. Mendidik merupakan tugas yang amat luas. Sebagian dilakukan dengan cara mengajar, sebagian ada yang dilakukan dengan memberikan dorongan, memberi contoh (suri tauladan), menghukum, dan lain-lain. Pakar lain seperti Ngalim Purwanto memberikan definis tentang  Guru adalah orang yang pernah memberikan suatu ilmu atau kepandaian kepada seseorang maupun kepada sekelompok orang.  Dan masih banyak para ahli pendidikan lain yang telah memberikan defenisi tentang guru namun inti dari keseluruhan yang di berikan oleh para ahli pendidikan sama saja dimana guru adalah seseorang yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan kepada kita dimana sebelumnya kita tidak mengetehui baik itu di sekolah maupun di luar sekolah, Merekalah yang kita contoh dari segala aspek yang mempengaruhi cara setiap orang berpikir ke depanya.

Dari pengertian guru di atas, sebetulnya begitu sangat mulianya arti guru itu sendiri dan tidak semua orang di dunia ini bisa menjadi seorang guru, hanya orang tertentu saja yang bisa menjadi guru, tentu hanya mereka – mereka yang memiliki kejiwaan untuk mendidik dan tingkat keikhlasan yang super tinggilah yang sebetulnya bisa menjadi seorang guru serta memantaskan diri untuk menjadi contoh atau suri tauladan bagi siapa saja disekitarnya.


Kedua dari segi orang tua. Ada semacam persepsi yang salah yang berkembang di masyarakat walaupun tidak semua, dimana seolah – olah pendidikan bagi seoarang anak sepenuhnya menjadi tanggungjawab seorang guru dimana orang tua cukup memberikan uang untuk biaya pendidikan sisanya adalah tanggungjawab guru. Persepsi ini saya dapatkan ketika saya memfasilitasi berbagai kegiatan di masyarakat di daerah saya anda sendiri. Dan tentu apa yang saya lihat dan dengar mungkin akan berbeda dengan lain. Jika di perhatikan lebih dalam ada beberap faktor yang menyebabkan persepsi ini berkembang, Pertama akibat rendahnya sumber daya manusia yang di miliki oleh orang peserta didik tersebut. Kedua ketidaksiapan seseorang secara mental menjadi orang tua misalnya akibat terlalu cepat menikah sehingga tidak paham bagaimana sebaiknya menjadi ornag tua bagi anaknya sendiri. Di tambah lagi dengan pemahaman arti akan pendidikan itu sendiri dimana banyak orang tua beranggapan bahwa ketika anaknya sekolah maka harus menjadi seorang pegawai negeri sipil atau menjadi seorang karyawan di suatu perusahaan baru pendidikanya di anggap berhasil bila tidak maka dianggap gagal. Hal ini berdampak buruk bagi tetangganya karena melihat kegagalan sehingga cara aneh – aneh pun akan di tempuh guna memastikan si anak harus jadi seperti yang di harapkan setelah menyelesaikan pendidikan serta makna – makna keliru lain yang bila di kaji sangat banyak jumlahnya.


Sebagaimana yang telah saya ungkapkan sebelumnya bahwa saya akan menggambarkan bagaimana saya dulu mengikuti pendidikan formal di sebuah daerah terpencil mungkin ada kesamaan dengan daerah lain dengan harapan semoga hal ini bisa menjadi bagian dari  catatan bagi para pelaku pendidikan di masa kini dan akan datang atau menjadi salah satu referensi bagi siapa saja yang hendak dan berniat menjadi guru ke depan. Saya lahir dan di besarkan di sebuah desa kecil di negeri gayo, desa itu sangat jauh dengan pusat perkotaan bahkan dulu masih dekat dan berbatasan langsung dengan hutan. Di desa saya lahir itu hanya ada tiga sekolah dasar kebetulan tempat saya tinggal sangat jauh dengan letak sekolah dasar itu di bangun. Setiap hari saya berjalan kaki sekitar kurang lebih 6 KM bersama teman – teman saya. Pada pukul 6.00 Wib pagi saya sudah harus pergi ke sekolah.  saya butuh waktu sekitar 1,5 – 2 jam dengan berjalan kaki system cepat. Kegiatan ini saya lakoni selama 6 tahun lamanya kalau anak – anak sekarang mungkin sudah beberapa kali masuk rumah sakit dan pingsan, jumlah guru di sekolah saya itu sangat sedikit tidak seimbang dengan jumlah kelas hanya ada 4 Guru Kelas dan 1 guru agama serta 1 kepala sekolah. Waktu itu saya belum mengenal istilah kecewa kalau tidak ada guru karena masih senang bermain jadi tidak masalah walaupun tidak ada guru. Saya masih ingat dengan jumlah guru yang sedikit itu sebetulnya tidak semua guru di sekolah saya itu layak menjadi guru oleh karena itu siapa pun anda yang berniat menjadi guru ke depan berpikirlah jangan menjadikan diri seorang guru karena tidak ada pekerjaan lain atau alasan lain yang irrasional. Masih terang di ingatan saya waktu itu ada guru yang datang senin – kamis plus metode mengajarnya dengan system CBSA alias catat buku sampai habis kemudian pulang. Si guru saya itu menitipkan buku kepada seorang siswa  untuk di bacakan sedang yang lain mencatat, kemudian gurunya kembali ke kantor untuk ngopy dan merokok sesekali si guru ikut membacakan buku untuk di dikte. Anda bisa bayangkan dengan perjalanan yang saya tempuh begitu jauh hanya untuk mencatat tanpa paham apa yang saya catat termasuk teman – teman saya yang lain. Ada ratusan orang yang mengalami nasib yang sama dengan saya. Datang ke sekolah hanya sekedar mencatat di tambah lagi gurunya yang datang senin kamis.  Tapi kekecewaan saya ini sedikit tertutupi dengan kehadiran dua orang guru lain yang layak menjadi contoh bagi saya dan saya sangat menghargai guru itu hingga kini dan mereka tetap saya anggap guru saya sampai dengan hari ini. Namun masalah lain timbul, tidak mungkin dua orang guru yang baik ini bisa menangani 6 kelas sekaligus dalam satu waktu. Anda bisa bayangkan bagaimana hasil dari pendidikan yang saya jalani, beruntunglah ibu saya yang sudah almarhum sedikit paham tentang pendidikan sehingga membantu saya dirumah belajar dengan baik.

Sekali lagi, bahwa apa yang saya ulas di atas sebetulnya secuil dari persoalan dari sejuta masalah yang ada dalam dunia pendidikan oleh karena itu saya ingin menyampaikan beberapa hal terkait persoalan pendidikan di negeri ini yang sudah seperti kapal pecah di tengah lautan. Pertama saya ingin menyampaikan bahwa saya sangat bangga kepada siapa saja yang berniat dan bercita – cita jadi guru, karena menjadi seorang guru itu adalah pekerjaan yang sangat mulia dunia akhirat dan saya  juga sepakat jika gaji seorang guru itu di naikan hingga layak mendapatkan kesejahteraan yang pantas. Namun disisi lain saya juga tidak sepakat bagi siapa yang tidak berbakat tapi memaksakan diri menjadi seorang guru dengan berbagai alasan hingga merugikan orang lain dan berdampak buruk terhadap generasi yang akan datang. Selanjutnya adalah bahwa semua orang harus sadar terutama orang tua bahwa bebicara soal pendidikan ini tidak hanya sepenuhnya menjadi tanggungjawab guru dan sekolah tapi orang tua dan keluarga juga ikut bertanggungjawab terhadap pendidikan anak. Tidak ada undang – undang maupun dalil dari agama yang menerangkan bahwa kewajiban pendidikan itu adalah sepenuhnya menjadi kewajiban guru dan sekolah saja. Secara politik tidak hanya saya tapi saya pikir semua orang berharap dan sepakat untuk tidak menjadikan dunia pendidikan sebagai korban kepentingan politik, sudah saatnya para politikus di negeri ini  sadar diri terhadap dunia pendidikan serta tidak menjadikanya sebagai korban keganasan nafsu belaka.









Share:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Populer