Catatan Pribadi

Apa bedanya petani di Eropa dan Mayoritas Petani Indonesia


Sebelum saya paparkan apa saja perbedaan petani di negara – negara di eropa terutama di Italy dan Belanda yang saya  lihat secara langsung. Mari terlebih dahulu kita lihat kesamaanya, yaitu dimana petani di eropa dan petani di Indonesia sama – sama berstatus sebagai petani itulah kesamaan yang paling mendasar.
Kita memang harus mengakui bahwa petani di sana lebih maju dari segala sisi karena memang menjadi petani di negara maju dan profesi sebagai petani sangat di hargai yang tentu berbeda dengan negara kita. Para petinggi di negara – negara eropa sadar betul bahwa tidak ada petani maka tidak ada pakaian dan makanan yang selalu mereka dengungkan di forum – forum di mana saja hingga ke parlemen.
Sebetulnya usaha pertanian dan peternakan di negara – negara eropa sangat sulit bila di bandingkan dengan negara kita Indonesia. Sebagai contoh bila ingin beternak maka tidak bisa setiap waktu mengambil rumput untuk pakan ternak karena mereka terdiri dari beberapa musim sehingga harus melakukan system stock pakan kering dan fermentasi untuk menjaga ketersediaan pakan terutama pada saat musim tertentu. Sementara di negeri kita Indonesia kapan saja kita mengambil rumput ternak sepanjang tahun tanpa ada masalah. Begitu juga dengan lahan pertanian tidak segampang negara kita karena ada sebagian lahan yang mereka olah sebetulnya pada awalnya adalah laut kemudian di timbun untuk lahan pertanian dimana lahan jenis ini harus di tunggu berpuluh tahun lamanya baru bisa di jadikan lahan pertanian menurut keterangan yang saya dengar dari mereka. Sementara tanah di negeri kita begitu subur dan mudahnya bercocok tanam. Pantas lah nenek moyang mereka dahulu ingin merebut dan menguasainya.

Lalu apa saja perbedaan – perbedaan lain antara petani di eropa dengan negara kita. Pertama,  saya sebagai anak petani harus mengakui dan angkat tangan serta acungkan jempol pada petani mereka terutama petani mudanya karena satu alasan yaitu totalitas dan totalitas. Saya benar – benar salut akan totalitas yang mereka miliki sebagai petani maupun peternak, mereka benar – benar menjiwai dunia pertanian itu sendiri, seolah – olah antara dirinya dan apa yang dia kerjakan sebagai satu bagian jiwa yang tak terpisahkan. Selain itu mereka juga mengimplentasikan yang namanya  harmonisasi antara lahan pertanian dengan lingkungan sebagai upaya mereka dalam mendukung system pertanian yang berkelanjutan. Saya tidak tau dan tidak sempat tanyakan apakah hal ini memang budaya mereka secara turun temurun atau karena kebijakan pemerintah mereka. Salah satu indikasinya adalah mereka menata kebunya begitu indah, menyesuaikan lahan dengan tanah garapan di tata rapi, setiap pinggir sungai kecil maupun besar di tanam pohon – pohon serta menjaga sungainya tetap bersih, membiarkan burung – burung liar hidup berdampingan dengan mereka tanpa ada yang ganggu karena mereka sadar hewan – hewan liar itu memiliki fungsi dalam menjaga kelestarian lahan pertanian mereka. Bahkan hampir di seluruh lahan pertanian ada tanah yang mereka sisakan untuk kebun bunga, awalnya saya pikir fungsinya hanya sekedar untuk memperindah tetapi ternyata tidak, bunga – bunga ini berfungsi sebagai insectisida alami yang berguna bagi tanaman yang mereka tanam. Kondisi ini benar – benar sangat berbeda dengan mayoritas lahan dan lingkungan di Indonesia, dimana banyak lahan, sungai, dan hutan di rusak begitu saja oleh para penjahat illegal logging serta menimbulkan bencana di sana sini setiap tahunya, petani di sekitarnya pun hanya mampu diam karena berstatus sama seperti saya, sama – sama rakyat jelata di sisi lain harus di akui bahwa  petani pun masih banyak yang tidak peduli terhadap lingkugan sekitarnya bagaimana menjaga alam tetap asri agar tidak menimbulkan masalah baru bagi pertanianya sendiri seperti menjaga sumber – sumber mata air, menjaga lahan miring/area konservasi dan lain – lain.

Perbedaan selanjutnya adalah hampir seluruh lahan dan peternakan di sana tidak hanya sebagai lahan peternakan dan pertanian belaka tetapi juga sebagai tempat pembelajaran bagi siapa saja yang ingin belajar dan sebagai tempat wisata untuk menghilangkan penat hiruk – pikuk perkotaan. Oleh karena itu tidak mengherankan di setiap lahan pertanian atau peternakan ada ruang atau tempat khusus untuk para tamu lokal maupun asing serta ruang pertemuan dimana kita bisa menggali informasi sebanyak yang kita inginkan dari si petaninya bahkan sebagian dari mereka menyediakan penginapan untuk para pengunjung. Hal menarik lainya adalah adanya semacam ciri khas dari rumah – rumah atau penginapan yang mereka bangun,  seolah – olah kita tidak perlu lagi bertanya apa yang mereka tanam atau jenis hewan apa yang mereka ternakan karena telah di tampilkan oleh ornamen – ornamen  yang melekat pada bangunan yang mereka bangun.

Perbedaan selanjutnya adalah jaminan pasar, pemerintahan mereka benar – benar melindungi dan menjamin pasar bagi hasil produksi peternakan dan pertanian, salah satunya dengan cara memberi batasan produksi bagi setiap petani agar tidak terjadi kelebihan barang sehingga harga menjadi murah.  Begitu juga dengan  pasar di sana terpisah menjadi dua model yaitu pasar organic dan pasar non organic, kebetulan yang saya kunjungi adalah pasar organic di mana barang – barang yang di jual di sana semuanya bersertifikat organic sehingga kita dengan mudah mengenali dari mana sebuah barang berasal, bahkan bila perlu kita bisa menelusuri siapa petaninya? Dimana lahanya? Bagaimana nasib petaninya dan lain – lain istilahnya Treacibility System.
Dukungan pemerintahan mereka juga tidak tanggung – tanggung terhadap dunia pertanian/peternakan, salah satunya adalah ketersedian sarana dan prasana yang baik misalnya akses jalan yang sangat bagus ke seluruh sentra produksi pertanian dan peternakan. Anda bisa melihat contohnya dalam video berikut ini.



Share:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Populer