Catatan Pribadi

Bedanya Orang Hebat dan Pejabat di Eropa dengan di Indonesia

Sebagai orang yang berasal dari kampung, saya benar – benar tidak pernah bermimpi untuk pergi ke eropa yang selama ini hanya bisa melihatnya melalui layar televisi dan internet. Namun suatu hari, Allah Swt memberikan saya kesempatan untuk berkunjung sana dalam rangka menghadiri salah satu event international yang  diadakan oleh Slow Food International di Italy dan study singkat tentang pertanian dan peternakan di Belanda. Keberangkatan tersebut disponsori oleh sebuah lembaga International Agriterra dari Belanda sedangkan dari dalam negeri, saya direkomendasikan oleh Koperasi Permata Gayo Sebuah koperasi produsen kopi organik dari dataran tinggi Gayo, tempat saya bekerja sebelumnya. Keberadaan saya di sana menjadi pengalaman yang sangat menarik dan sangat berarti serta menjadi pembelajaran yang sangat penting


Pada tanggal 2 Oktober 2015 Saya tiba  di Malpensa International airport yang terletak di provinsi Varese dekat Kota Milan Italy, awalnya sempat sedikit kebingungan maklum namanya juga orang kampung karena tidak tau mau kemana, namun kebingungan saya terhenti setelah melihat kanan – kiri dekat pintu keluar kedatangan International, ternyata sudah ada orang yang menunggu para peserta dari berbagai negara serta melakukan check list terhadap peserta yang datang. Kemudian peserta dibawa dengan menggunakan bus ke tempat pusat acara, setibanya di pusat acara saya baru melihat kerumunan orang begitu banyak yang tak pernah saya lihat secara langsung sebelumnya kecuali hanya di TV, jumlahnya pun tak tanggung – tanggung ribuan orang dari seluruh penjuru dunia, kebanyakan pesertanya adalah para anak muda, karena memang acara ini khusus untuk anak muda dari seluruh dunia kemudian para pejabat negara  - negara berbagai negara, para pegiat LSM, pengusaha bercampur aduk dalam satu tempat. 
Disini lah saya mulai membuat catatan – catatan kecil bagaimana orang – orang disana terutama para pejabat, para pengusaha, para kalangan akademisi hingga orang penting lainya berbaur dengan orang banyak tanpa membedakan tempat duduk, tempat makan bahkan sangat sulit membedakan mana diantara kerumunan orang banyak itu pejabat dan bukan pejabat, yang mana orang biasa yang mana orang hebat, mana masyarakat biasa yang mana pengusaha benar – benar sulit membedakanya.  Saya benar – benar memperhatikan kondisi ini mulai dari hari pertama sampai dengan hari terakhir dimana 100% berbalik dengan apa yang saya lihat di negeri yang kita cintai ini dimana kita dengan gampang bisa mengetahui seorang pejabat mulai dari RT, Kepala Desa, Camat, Bupati hingga pejabat tinggi dan seterusnya. Jangankan orang dewasa anak – anak kecil juga sangat gampang mengetahui seseorang memiliki posisi hebat di negeri ini mulai dari seragamnya, kalau yang di atas lagi ada pengawalnya, kalau ada pertemuan di masyarakat atau event – event pasti tempat duduk dan jenis kursinya pun di bedakan. Kalau mau bicara face to face biasanya ada rasa segan
Sebagai orang kampung anda sudah pasti mengetahui bagaimana saya yang apa adanya dan tidak terlalu berani di awal – awal untuk vocal karena sadar diri siapa dan dari mana saya berasal, rupanya hal ini tidak berlaku di sana. Saya masih ingat di hari pertama di sana, dimana ada deretan kursi – kursi sederhana di samping gedung acara yang terbuat dari kayu palet bekas kalau di kita kayu begituan lebih banyak di bakar. Semua orang duduk – duduk disana sambil menunggu pembukaan acara, saling berkenalan satu sama lain termasuk saya. Saya pun mengambil segelas kopi gratis yang sudah di sediakan panitia, sembari meminta izin untuk duduk di salah satu kursi kosong bersama orang dari negara lain yang belum saya kenal. Kemudian kami berkenalan kebetulan ada laki – laki tua  pertama yang saya ajak kenal, dia berasal dari Switzerland yang lain berasal dari Italy. Perkenalan kami hanya pada nama dan asal negara saja kemudian berdiskusi ringan apa adanya. Selama acara ceremonial belum di buka dengan kopi di tangan, saya mencoba jalan ke sana kemari dan berkenalan dengan orang – orang, sampai akhirnya ada banyak orang yang saya kenal di acara itu sampai – sampai banyak orang yang mengetahui kalau saya harus makan nasi gak bisa makan roti saja. Karena cuacanya dingin jadi saya putuskan memakai kain sarung, rupanya kain sarung yang saya pakai membawa keberuntungan buat saya karena orang dengan gampang mengenal bahwa saya berasal dari Indonesia kecuali pakaian yang bermotif kerawang yang harus saya jelaskan kembali dari daerah mana saya berasal di Indonesia
Seteleh acara pembukaan ceremonial dan di hari kedua saya baru sadar bahwa orang – orang yang sebelumnya saya ajak kenalan atau sebaliknya bukan orang sembarangan bukan masyarakat biasa. Mereka adalah para big bos dari negaranya atau pejabat perwakilan dari negaranya misalnya seperti yang dari switzerland adalah manager perusahaan penting di negaranya yang pernah punya project skala besar di Indonesia. Kalau saya sebut siapa saja nama – namanya terlalu banyak untuk di sebutkan di sini yang jelas saya baru sadar dan terperangah ketika ada di antara mereka ada yang jadi keynot spekear, berbicara di depan podium menyampaikan orasi – orasi dan sebagainya. Saya benar – benar bingung dan bercampur sedikit malu karena saya merasa tidak pantas untuk duduk semeja dan ngopy satu meja dengan mereka sebelumnya. Begitu bersahajanya mereka dengan orang – orang biasa dan begitu bersahabatnya mereka dengan anak – anak muda, bertanya dengan sungguh – sungguh serta mendengarkan apa yang kita sampaikan dengan sungguh - sungguh serta sangat menghargai apa yang kita sampaikan, tidak hanya sampai disitu mereka juga akan mensupport kita bila kita ingin melakukan seseuatu yang berbeda yang berguna untuk diri kita dan orang banyak. Sepanjang acara saya hanya melihat satu dua kali pengawalan terhadap seseorang, saya baru tau orang yang di kawal itu adalah seorang menteri ketika sudah berbica di depan podium, itu pun hanya terjadi pada acara pembukaan dan penutupan tapi pengawalanya juga tidak terlau ketat karena masih ada kesempatan untuk saling bicara si pak Menteri.
Karena saya lihat seperti tanpa batas antara para petinggi dengan peserta yang hadir saya pun mulai memberanikan diri berkenalan dengan siapa saja bahkan orang – orang yang saya anggap tokoh kunci di event itu dan mengajak ngopy bersama di antara mereka karena memang saya berasal dari daerah penghasil kopi dataran tingggi gayo, seperti biasa di mana di sebuah event terkadang kita suka mengabadikanya dengan mengambil photo bersama tanpa saya sadari, ada orang yang lain mengambil photo kami secara ramai – ramai dengan Carlo Petrini sang pendiri organisasi slow food International sekaligus sebagai president slow food international. Saya tepat duduk disampingnya dengan sedikit cengar cengir tapi tanpa saya duga photo itu pun menjadi cover depan pemberitaan slow food  keesokan harinya.
Begitu juga dengan panitia acaranya, saya benar – benar salut, mengurus kita seperti mengurus keluarganya sendiri begitu bersahaja, mereka benar – benar menjaga keamanan dan kenyamanan kita selama di sana. Segala sesuatunya di tanya seperti biasa di awali dengan pertanyaan Apakabar anda pagi ini? bagaiamana dengan makan anda, Apa yang anda bisa makan? Apakah ada masalah dengan makanan? Anda mau apa? Anda bisa makan apa? Bagaimana dengan hotel anda? Bagaimana tidur anda semalam? Apakah nyaman atau tidak, bila tidak nyaman katakan saja supaya kita bisa mencari tempat lain dan sebagainya. Begitulah mereka bertanya setiap paginya sebelum kita mengikuti event demi event. Dan seumur hidup baru kali ini saya mendapat pertanyaan seperti itu.
Saya pikir ini hanya terjadi di Italy ternyata ketika saya melakukan study singkat ke Belanda tentang pertanian dan peternakan ternyata sama saja seperti di Italy. Selain bertemu dengan para petani dan para peternak khususnya petani dan peternak muda, saya juga bertemu dengan beberapa para pengusaha di sana. Saya di bawa oleh sponsor saya melihat salah satu perusahaan apel terbesar di Belanda serta beberapa perusahaan lain khususnya di bidang pertanian. Anda tau apa yang terjadi dengan saya, saya hanya senyum – senyum saja karena menurut saya tidak pantas bos perusahaan ini duduk satu meja dengan saya, saya bukan levelnya. Iya saya benar – benar bukan levelnya. Tapi si pimpinan perusahaan ini juga begitu bersahajanya menyambut kedatangan kami dan  mempersilakan kami masuk keruangan miliknya serta melakukan obrolan ringan sebelum dia mempresentasikan perusahaanya dan mengunjungi perkebunan apel yang luasnya saya tidak tau dan tidak bisa lihat batasnya sepanjang mata memandang karena begitu luasnya.
Masih banyak hal menarik lainya jika dipaparkan tentang bagaimana orang – orang hebat di eropa  atau para pejabat di sana bergaul dengan orang biasa dan rakyat jelata yang sangat berbeda jauh dengan para petinggi di republik yang kita cintai ini meskipun ada yang menyamai jumlahnya sangat sedikit. Semoga apa yang saya sampaikan ini tidak menyinggung perasaan siapa saja karena ini merupakan pengalaman pribadi dan lebih kepada kepentingan pembelajaran bagi saya pribadi.



Share:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Populer